Relic – Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), akses permodalan sering kali menjadi jembatan antara impian bisnis dan realitas operasional. Di tahun 2026 ini, Bank Rakyat Indonesia (BRI) kembali hadir.
Sebagai garda terdepan penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR). Memahami Tabel KUR BRI bukan sekadar melihat deretan angka, melainkan langkah strategis awal untuk merencanakan arus kas bisnis yang sehat.
Program pemerintah yang disalurkan melalui perbankan pelat merah ini terus menjadi primadona. Alasannya sederhana: suku bunga yang rendah.
Karena subsidi pemerintah serta persyaratan yang relatif lebih mudah dibandingkan pinjaman komersial biasa. Namun, sebelum melangkah ke kantor cabang terdekat.
Mengakses aplikasi secara daring, pemahaman mendalam mengenai simulasi angsuran, jenis plafon, hingga risiko yang menyertainya sangatlah krusial.
Ulasan ini akan membedah secara tuntas segala hal terkait simulasi pinjaman tersebut. Mulai dari rincian nominal, mekanisme bunga berjenjang yang berlaku di tahun 2026.
Hingga tips agar pengajuan disetujui oleh pihak bank. Mari selami lebih dalam peta permodalan ini untuk kemajuan usaha bersama.
Apa Itu Tabel KUR BRI dan Mengapa Begitu Penting?
Secara sederhana, tabel ini adalah simulasi angsuran yang menyajikan estimasi jumlah cicilan bulanan berdasarkan plafon pinjaman (jumlah uang yang dipinjam) dan tenor (jangka waktu pelunasan).
Namun, di balik angka-angka tersebut, tersimpan informasi vital mengenai kemampuan bayar seorang debitur.
Bagi seorang pengusaha, tabel ini berfungsi sebagai kompas finansial. Melihat tabel memungkinkan calon debitur mengukur kapasitas laba bersih usaha terhadap beban cicilan yang akan ditanggung.
Jangan sampai keinginan memperbesar modal justru menjadi bumerang yang menggerus profitabilitas harian.
Pentingnya instrumen ini juga terletak pada transparansi. Nasabah bisa melihat dengan jelas berapa total bunga yang dibayarkan selama periode pinjaman.
Dengan adanya subsidi bunga dari pemerintah, angka yang tertera dalam tabel KUR biasanya jauh lebih ringan dibandingkan produk pinjaman lain seperti Kupedes atau kredit multiguna.
Rincian Jenis KUR BRI 2026: Plafon dan Ketentuan
BRI membagi produk KUR menjadi tiga kategori utama untuk menyesuaikan dengan skala bisnis nasabah. Pemahaman mengenai kategori ini penting agar calon peminjam tidak salah memilih skema yang sesuai dengan kebutuhan modalnya.
1. KUR Super Mikro
Ini adalah kasta pinjaman untuk usaha yang baru merintis atau skala rumah tangga yang sangat kecil.
- Plafon: Sampai dengan Rp10.000.000.
- Bunga: 3% efektif per tahun.
- Keunggulan: Syarat lebih lunak, bahkan lama usaha bisa kurang dari 6 bulan asalkan mengikuti pendampingan atau pelatihan.
2. KUR Mikro
Kategori ini adalah yang paling populer dan paling banyak diakses oleh pedagang pasar, pemilik warung, hingga pengrajin.
- Plafon: Di atas Rp10.000.000 hingga Rp100.000.000.
- Bunga: Mulai dari 6% efektif per tahun untuk pengajuan pertama.
- Ketentuan Bunga Berjenjang: Bagi nasabah yang pernah meminjam sebelumnya (suplesi), bunga akan naik menjadi 7%, 8%, hingga 9% per tahun sesuai frekuensi pinjaman.
3. KUR Kecil
Ditujukan untuk usaha yang sudah memiliki omzet lebih stabil dan membutuhkan suntikan modal besar untuk ekspansi, renovasi tempat, atau peremajaan mesin.
- Plafon: Di atas Rp100.000.000 hingga Rp500.000.000.
- Agunan: Berbeda dengan Super Mikro dan Mikro yang sering kali tanpa agunan tambahan, KUR Kecil biasanya mewajibkan agunan tambahan sesuai kebijakan bank.
- Tenor: Kredit Modal Kerja (KMK) maksimal 4 tahun, Kredit Investasi (KI) maksimal 5 tahun.
Simulasi Tabel KUR BRI 2026 (Estimasi Angsuran)
Berikut adalah gambaran simulasi angsuran untuk memberikan bayangan nyata mengenai beban cicilan. Perlu diingat, angka ini adalah estimasi.
Dengan asumsi bunga 6% per tahun (0,2an% flat per bulan). Angka realisasi di bank bisa sedikit berbeda tergantung kebijakan terbaru dan tanggal pencairan.
Tabel Angsuran KUR Mikro (Plafon Rp10 Juta – Rp50 Juta)
| Plafon Pinjaman | Tenor 12 Bulan | Tenor 18 Bulan | Tenor 24 Bulan | Tenor 36 Bulan |
| Rp 10.000.000 | Rp 860.664 | Rp 582.317 | Rp 443.206 | Rp 304.219 |
| Rp 20.000.000 | Rp 1.721.329 | Rp 1.164.635 | Rp 886.412 | Rp 608.439 |
| Rp 30.000.000 | Rp 2.581.993 | Rp 1.746.952 | Rp 1.329.618 | Rp 912.658 |
| Rp 40.000.000 | Rp 3.442.657 | Rp 2.329.270 | Rp 1.772.824 | Rp 1.216.877 |
| Rp 50.000.000 | Rp 4.303.321 | Rp 2.911.587 | Rp 2.216.031 | Rp 1.521.097 |
Tabel Angsuran KUR Mikro & Kecil (Plafon Rp60 Juta – Rp100 Juta)
| Plafon Pinjaman | Tenor 12 Bulan | Tenor 24 Bulan | Tenor 36 Bulan | Tenor 48 Bulan | Tenor 60 Bulan |
| Rp 60.000.000 | Rp 5.163.986 | Rp 2.659.237 | Rp 1.825.316 | Rp 1.408.333 | Rp 1.160.000 |
| Rp 75.000.000 | Rp 6.454.982 | Rp 3.324.046 | Rp 2.281.645 | Rp 1.760.416 | Rp 1.450.000 |
| Rp 100.000.000 | Rp 8.606.643 | Rp 4.432.061 | Rp 3.042.194 | Rp 2.347.222 | Rp 1.933.333 |
Catatan: Angka di atas merupakan ilustrasi pembulatan. Untuk nilai pasti, selalu konsultasikan dengan Mantri BRI atau petugas di kantor unit terdekat.
Manfaat Mengakses Dana KUR bagi Pengembangan Usaha
Mengapa begitu banyak pengusaha berlomba-lomba mengajukan fasilitas ini? Manfaatnya melampaui sekadar mendapatkan uang tunai.
Pertama, Stabilitas Arus Kas. Dengan tenor yang panjang (hingga 5 tahun untuk investasi), cicilan bulanan menjadi sangat terjangkau. Ini memungkinkan keuntungan usaha tidak habis hanya untuk membayar utang, melainkan bisa diputar kembali untuk belanja stok barang.
Kedua, Membangun Track Record Perbankan. Bagi pengusaha yang belum bankable, KUR adalah pintu masuk terbaik. Disiplin membayar cicilan KUR akan tercatat.
Di SLIK OJK (dulu BI Checking). Riwayat kredit yang hijau dan bersih ini akan menjadi aset berharga di masa depan jika ingin mengajukan pinjaman komersial dengan nilai miliaran rupiah.
Ketiga, Biaya Murah. Dibandingkan pinjaman online (pinjol) atau koperasi simpan pinjam non-pemerintah, selisih bunga KUR sangat signifikan. Penghematan dari biaya bunga ini bisa dialokasikan untuk aset produktif lainnya.
Cara Kerja dan Proses Pengajuan: Konvensional vs Digital
BRI terus berinovasi untuk mempermudah akses masyarakat. Saat ini, terdapat dua jalur utama untuk mengajukan permohonan berdasarkan tabel simulasi di atas.
Jalur Offline (Datang ke Kantor Unit)
Metode ini masih menjadi favorit karena memungkinkan interaksi langsung. Calon debitur datang membawa berkas, bertemu dengan Mantri BRI, dan melakukan sesi tanya jawab. Kelebihannya adalah kejelasan informasi secara instan.
Petugas bisa langsung memberitahu jika ada berkas yang kurang atau memberikan saran mengenai plafon yang realistis sesuai kondisi usaha.
Jalur Online (E-Form / BRISPOT)
Melalui laman resmi kur.bri.co.id atau aplikasi BRIMO (jika fitur tersedia), nasabah bisa mengajukan pinjaman dari rumah. Proses ini biasanya melibatkan pengisian data diri, upload dokumen usaha, dan referensi.
Setelah data masuk, petugas bank akan menghubungi untuk verifikasi fisik dan survei lokasi. Cara ini sangat efisien bagi mereka yang sibuk menjaga toko dan sulit meninggalkan tempat usaha.
Tantangan dan Risiko yang Perlu Diwaspadai
Meskipun terlihat menggiurkan, pinjaman tetaplah utang yang harus dibayar. Ada beberapa risiko yang sering luput dari perhatian para peminjam pemula.
Risiko Kredit Macet (NPL):
Seringkali, karena merasa bunga murah, nasabah mengambil plafon maksimal tanpa memperhitungkan fluktuasi pasar. Jika penjualan menurun, cicilan tetap berjalan. Keterlambatan pembayaran akan berdampak fatal pada reputasi kredit pribadi.
Penyalahgunaan Dana (Side Streaming):
Tantangan terbesar adalah disiplin diri. Dana KUR ditujukan untuk modal kerja atau investasi usaha. Namun, godaan menggunakan dana cair untuk kebutuhan konsumtif—seperti membeli motor baru.
Renovasi rumah tinggal, atau gadget—sangat besar. Ini adalah resep bencana keuangan karena uang tersebut tidak menghasilkan pendapatan untuk membayar cicilan.
Kebijakan Bunga Berjenjang:
Bagi nasabah lama yang ingin top-up atau mengajukan pinjaman periode kedua dan ketiga, bunga tidak lagi 6%. Kenaikan menjadi 7%, 8%, hingga 9% harus diperhitungkan dalam Tabel KUR BRI yang baru. Kenaikan beban bunga ini, meski terlihat kecil dalam persentase, cukup terasa dalam nominal rupiah bulanan.
Tips Agar Pengajuan Disetujui Mantri BRI
Banyak yang bertanya, mengapa pengajuan ditolak padahal usaha terlihat ramai? Persetujuan kredit bukan hanya soal keramaian toko, tapi soal administrasi dan karakter.
- Rapikan Administrasi Usaha: Pastikan memiliki Surat Izin Usaha Mikro dan Kecil (IUMK) atau Nomor Induk Berusaha (NIB) yang diterbitkan melalui OSS. Dokumen ini adalah syarat mutlak.
- Pisahkan Rekening: Jangan campur keuangan pribadi dan usaha. Bank akan meminta rekening koran atau mutasi tabungan 3-6 bulan terakhir. Mutasi yang aktif dan jelas menggambarkan omzet usaha adalah nilai plus yang besar.
- Bersihkan Riwayat Kredit: Pastikan tidak ada tunggakan di leasing motor, paylater, atau pinjaman online. SLIK OJK yang “merah” hampir pasti membuat pengajuan KUR ditolak otomatis oleh sistem.
- Jujur Saat Survei: Ketika Mantri datang survei (OTS – On The Spot), berikan informasi apa adanya mengenai omzet dan kendala usaha. Kejujuran membangun kepercayaan (trust) yang merupakan basis dari pemberian kredit.
Fakta Menarik: KUR Sebagai Penopang Ekonomi
Tahukah bahwa program KUR telah menyelamatkan jutaan UMKM saat krisis pandemi lalu? Fakta menarik lainnya adalah dominasi sektor pertanian, perikanan, dan perdagangan dalam portofolio KUR BRI.
Pemerintah memberikan porsi subsidi bunga yang sangat besar mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya, hanya agar tabel angsuran yang dilihat masyarakat tetap rendah dan terjangkau.
Selain itu, ada konsep “Naik Kelas”. Nasabah yang sudah sukses dengan KUR dan usahanya membesar didorong untuk beralih ke Kredit Komersial (Kupedes atau Kredit Usaha Kecil). Ini agar kuota KUR bisa digulirkan kepada pengusaha pemula lain yang lebih membutuhkan subsidi.
Dampak dalam Kehidupan Masyarakat
Kehadiran skema kredit murah ini menciptakan efek domino positif. Di pedesaan, petani bisa membeli pupuk dan bibit unggul tanpa terjerat rentenir. Di perkotaan, kedai kopi kecil bisa membeli mesin espresso baru untuk bersaing dengan chain besar.
Secara makro, kelancaran penyaluran KUR menjaga daya beli masyarakat dan menekan angka pengangguran. Setiap usaha yang berkembang berpotensi merekrut pegawai baru, mengurangi beban sosial negara. Tabel KUR BRI bukan sekadar kertas simulasi, melainkan representasi dari harapan perputaran roda ekonomi akar rumput.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Untuk memperjelas pemahaman, berikut adalah rangkuman pertanyaan yang sering muncul terkait topik ini:
1. Apakah pengajuan KUR BRI 2026 memerlukan jaminan/agunan?
Untuk plafon sampai dengan Rp100 juta (KUR Mikro), umumnya tidak diwajibkan agunan tambahan (sertifikat tanah/BPKB), karena agunan pokoknya adalah usaha itu sendiri. Namun, untuk KUR Kecil (plafon >Rp100 juta), agunan tambahan biasanya diperlukan.
2. Berapa lama proses pencairan dana KUR setelah survei?
Jika dokumen lengkap dan hasil survei bagus, proses bisa sangat cepat. Rata-rata memakan waktu 3 sampai 7 hari kerja hingga dana masuk ke rekening.
3. Mengapa pengajuan saya ditolak padahal tidak punya utang lain?
Ada beberapa kemungkinan: kuota di unit kerja tersebut habis, lokasi usaha tidak sesuai wilayah kerja unit bank, karakter pemohon dinilai kurang kooperatif, atau administrasi (seperti KTP/KK) bermasalah di Dukcapil.
4. Bisakah mengajukan KUR jika masih ada cicilan KPR atau Leasing Kendaraan?
Bisa, asalkan status pembayaran lancar (Kolektibilitas 1) dan pinjaman tersebut bukan kredit produktif/modal kerja. Kredit konsumtif seperti KPR, KKB, dan Kartu Kredit diperbolehkan berjalan beriringan dengan KUR selama kapasitas bayar mencukupi.
5. Apakah bisa melakukan pelunasan dipercepat (maju)?
Bisa. Namun, tanyakan kepada petugas mengenai ketentuan penalti atau biaya administrasi pelunasan dipercepat. Biasanya KUR cukup fleksibel dalam hal ini.
Kesimpulan
Memahami Tabel KUR BRI secara menyeluruh di tahun 2026 adalah langkah cerdas bagi setiap pelaku usaha. Angka-angka dalam tabel tersebut menawarkan peluang untuk eskalasi bisnis dengan biaya modal yang sangat kompetitif.
Namun, kemudahan ini harus dibarengi dengan tanggung jawab finansial yang matang, administrasi yang rapi, dan tujuan penggunaan dana yang tepat sasaran.
Jadikan fasilitas kredit pemerintah ini sebagai tuas pengungkit kemajuan bisnis, bukan sebagai dana talangan gaya hidup. Dengan perencanaan matang berdasarkan simulasi angsuran yang tepat, impian mengembangkan usaha bukan lagi sekadar wacana, melainkan rencana yang siap dieksekusi.
Siapkan berkas, cek kesehatan keuangan, dan konsultasikan kebutuhan modal dengan bijak. Peluang tumbuh ada di depan mata.